Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI DAN GURU

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

GAGASAN KEMAJUAN UMAT

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Monday, February 24, 2025

Bedah Buku: "Rasional Tanpa Menjadi Liberal (Worldview Islam Untuk Framework Pemikiran dan Peradaban)"

 Bedah Buku: 

 “Rasional Tanpa Menjadi Liberal;

 (Worldview Islam Untuk Framework Pemikiran dan Peradaban)

Vol. 2

Sabtu, 22/02/2025. Bedah buku “Rasional Tanpa Menjadi Liberal; ” dengan Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi sangat menyenangkan. Secara singkat padat, langsung pada inti persoalan, dan solusi, terasa begitu dinamis, dan solutif.

Sosok ulama muda yang kini berkiprah dalam dunia pemikiran tersebut perlahan menyadarkan peserta yang hadir, akan pentingnya paham akan ‘basic believe’ yang benar dan kokoh. 

Terdapat banyak poin penting, yang saya garis bawahi, selama mengikuti zoom meeting ini, saya ulas kembali dan tuliskan kembali di catatan ini dengan format tulisan Q & A (tanya jawab), agar bisa mendapatkan deskripsi yang lugas dan tuntas. Ada sekitar 9 pertanyaan yang diulas dalam catatan singkat ini, di antaranya:

 

1.     Apakah filsafat ilmu bisa digunakan dalam ilmu sosial?

Filsafat ilmu bisa dipakai dalam ilmu sosial, tapi basisnya adalah teologi, di mana dalam hal ini harus berdasarkan ilmu, dan Ilmu dalam Islam sumbernya dari alquran.

2.     Jelaskan sedikit tentang konsep teologi Islam?

Teologi Islam itu komprehensif dan ada basis epistemologinya.  Sebagai contoh Ilmu kalam, ini adalah ulasan karya yang berbicara tentang teologi secara komprehensif dan epistemologis. 

Teologi Islam  disebut juga dengan aqidah. Aqidah bukan sekedar teologi moralitas, aqidah tidak sekedar mengajarkan moral, tapi juga mengajarkan sesuatu dengan ilmu, “fa’lam annahu la Ilahaillah”, pada kata i’lam, itu adalah kata pengetahuan, di samping berkeyakinan, umat muslim diminta juga berpikir, menganalisis dan mengkaitkan aqidahnya dengan relevansi alam semesta. 

Dengan begitu jelaslah bahwa, teologi kita sumbernya ilmu. Pahami Islam, Pelajari Islam, lihat ayat-ayat qouniyah, lalu perhatikan sekitar, sampai pada akhirnya kamu paham, meyakini dengan sepenuh hati. Semakin belajar, maka akan semakin kuat keimananmu memperkokoh aqidahmu.

3.     Bagaimana proses pembentukan adab?

Umat Islam mesti menggembalikan segala sesuatunya pada titik awal keberangkatan. Di mana mesti berangkat dari sumber wahyu umat Islam, yang menjadi pedoman dasar yaitu alquran. Sebab alquran adalah sumber adab; darinya lahirlah ilmu pengetahuan yang beragam macam, kemudian Ilmu yang terlahir darinya disebut dengan adab; orang yang memiliki ilmu tersebut, disebut orang beradab; semakin membesar, membentuk komunitas-komunitas, maka akan menjadi peradaban, beginilah kira-kira peradaban itu terbentuk. 

Dari proses lini terkecil dalam organisasi yang disebut keluarga. Jadi peradaban sangat besar sekali; terbentuk dari pola keyakinan keluarga yang baik, dengan pola pendidikan yang baik, pola komunikasi yang baik, pola pemahaman yang baik, pola tindakan yang baik,  sehingga pada akhirnya bisa menjaga keluarganya dengan baik, syukur-syukur dapat memberikan efek perubahan luar biasa di masyarakatnya juga.

 

Berikut kira-kira ilustrasi sederhana, proses peradaban itu dimulai: 

 




4.  Jika ingin menjadi muslim yang baik, dari mana pertama sekali proses ini dibangun?
Dalam Islam yang dipentingkan individu dulu, lalu kemudian institusi keluarga, “ku anfusakum wa ahlikum naro”, (prioritaskan/selamatkan dirimu, lalu keluargamu, dari api neraka), kalau boleh diteruskan maka “…wa mujtamaikum”  (dan prioritaskan/selamatkan masyarakatmu dari api neraka).

 

5.     Di titik mana antara Barat dan Timur bisa bertemu dan bersatu?

Barat dan Timur bisa bertemu pada titik Ilmu pengetahuan. Kalau bicara tentang ilmu pengetahuan, bisa bertemu dan Bersatu. Berbicara sains, teknologi, pengetahuan, konsep alam, konsep manusia, dan konsep yang lainnya, bisa mempersatukan Barat dan Timur. Namun selain itu, tidak akan pernah ketemu, tidak di politik, tidak juga dengan ekonomi.

 

6.     Bagaimana konsep islamisasi dalam Islam?

Islamisasi bukan konversi, tapi proses aprovisasi. Ketika ilmu diambil positifnya, maka proses aprovisasi disesuaikan dengan Islam, tidak bisa diambil begitu saja. Salah satu contohnya, sistem perbankan konvensional diaprovisasi sehingga menjadi perbankan syariah, ekonomi konvensional menjadi ekonomi syariah. Memang pada saat ini Islam belum meluncurkan sistemnya secara mandiri, tapi percayalah, suatu ketika Islam akan menjadi  mandiri. Sehingga bisa membangun sistem yang benar-benar baik dan sesuai dengan Islam, dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

7.     Bagaimana batasan toleran dalam Islam?

Toleran terhadap berbagai hal, itu tidak boleh menerobos syariat atau aqidah. Itulah yang harusnya tidak boleh disalahpahami bagi muslim. Dan itu merupakan batasan yang paling selamat.

 

8.     Bagaimana konsep benar dalam tingkatan Transenden?

Menyikapi paham pluralisme, konsep “BENAR” dalam tingkat transenden, tidak bisa disamakan. Antara Tuhan agama Islam dengan tuhan agama yang lain itu tidak sama, cara peribadahannya tidak sama, keyakinannya juga berbeda,

Jika plural diartikan masyarakat majemuk, banyak, komprehensif terdiri dari banyak unsur, itu benar. Namun tidak dalam hal keyakinan yang itu sifatnya subjektif. Sebab konsep kebenaran yang sebenarnya dalam Islam mesti berlandaskan ilmu, keyakinan dan perbuatan yang berlandaskan keislaman. 

Syariat dan Aqidah Islam tidak boleh berbeda-beda. Keduanya bukan hal terpisahkan, tapi satu kesatuan yang kokoh dalam Islam. Maka jika ada pendikotomian dari hal ini, itulah yang berbahaya bagi aqidah muslim.


9.     Sebenarnya apa tujuan INSISTS mengadakan diskusi ini?

Misi INSISTS ini, ingin mengembalikan Islam kepada tradisi Islam yang berlandaskan alquran dan sunnah. Dengan tidak menutup pintu diskusi secara keilmuan. Insya Allah kita akan selalu siap mengimbangi dan mengikuti diskusi terbuka dalam hal ini.

Sejatinya tanya jawab yang berlangsung ketika zoom meeting ini dibuka teramat sangat banyak dan padat, nyaris tidak behenti, baik penanya langsung maupun melalui chat, maka dengan segala keterbatasan saya sebagai salah seorang peserta, inilah beberapa pertanyaan dan jawaban yang bisa say aulas kembali, dan tuliskan dalam catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Aamiin. 

Selain penyajian tulisan ini dengan cara Q & A (tanya jawab), saya ingin coba mengulas tentang betapa menariknya judul ini, mengangkat judul singkat, padat dan bernash. 


Rasional Tanpa Menjadi Liberal;

 (Worldview Islam Untuk Framework Pemikiran dan Peradaban)

Vol. 2

Judulnya sungguh sangat memikat sedari awal membacanya, jadi penasaran ingin menjabarkan lebih lues dari maksud yang tersirat, dengan segala keberanian tapi dengan data, kami coba membuka “Kamus Filsafat” karya Lorens Bagus, belajar menganalisis sebuah kata dari penjelasan yang lebih terperinci, berikut kami sampaikan datanya:


Rasional:[1]

Inggris: rational. Latin: rationalis (masuk akal) dari ratio (akalbudi).

Beberapa pengertian dari kata “RASIONAL” itu sendiri adalah:

1.  Secara umum, rasional menunjukkan modus atau cara pengetahuan diskursif, konseptual yang khas manusiawi. Jadi rasional tidak sama dengan ‘intelektual’.

2.     Dalam arti khusus, rasional berarti: konklusif, logis, metodik.

3.    Dalam arti ilmu pengetahuan, rasional merupakan ilmu yang bersifat deduktif atau reduktif (yakni berasal dari prinsip-prinsip atau dengan mereduksi yang ada kepada prinsip-prinsip).

4.     Rasional juga berarti mengandung atau mempunyai rasio atau dicirikan oleh rasio; dapat dipahami; cocok dengan rasio; dapat dimengerti, ditangkap, masuk akal; melekat pada (berhubungan dengan) sifat-sifat pemikiran seperti konsistensi, koherensi, kesederhanaan, keabstrakan, kelengkapan, teratur, struktur logis.

 

Liberal:[2]

Liberal itu artinya bebas, kata-kata liberal diambil dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan di mana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir (The old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna. 

Rasional Tanpa Menjadi Liberal  seakan menganjurkan pada setiap pembaca, untuk benar-benar mengaktifkan akalnya, harus rasional, kritis, paham diskursif, mengerti konsep, paham alasan, memahami proses sebab dan akibat, dan sekian tanda-tanda kebesaran Allah dari alam ini, sebagai bentuk aktif dalam menyikapi kehidupan tanpa menjadi liberal, tanpa kebablasan, tanpa terjun bebas tanpa ada pegangan keilmuan dan keimanan. 

Dari judul ini juga, seakan menasehati setiap muslim untuk selalu berpikir sehat, sebelum bertindak, sehingga setiap tindakannya adalah kebaikan. Setiap apapun yang dihasilkannya adalah keberkahan, rahmat dan maghfirah dari Allah swt.

Setelah ulasan dari judul buku volume ke 2. Mari kita sejenak balik mengulik ulasan dari judul buku volume pertama. Secara lebih spesifik, kami mencari maknanya dari “Kamus Filsafat” karya Lorens Bagus: 

 

Rasional Tanpa Menjadi Liberal; Refleksi Keimanan Sampai Pada Titik Dasar

Kata Rasional dan liberal, nampaknya sudah sangat jelas, dengan penjelasan, ditambah dengan arti tertulis yang membantu menjelaskannya. Adapun kalimat baru yang perlu didudukkan artinya, terdapat pada kata “refleksi” dan “iman”. Berikut makna refleksi dan iman yang kami dapat uraikan:

Refleksi:[3]

Inggris: reflection. Dari Latin: reflectere (melengkung ke belakang).

Beberapa pengertian dari kata “REFLEKSI” itu sendiri adalah:

1.     Refleksi dalam arti paling umum berarti meditasi yang dalam, yang bersifat memeriksa. Meditasi ini berbeda dengan persepsi yang sederhana atau dengan putusan-putusan langsung, involunter mengenai suatu objek.

2.     Refleksi sebagai pembalikan. Pembalikan ini (reflexio = menekuk ke belakang) merupakan arti refleksi yang sebenarnya. Karena itu, rekfleksi secara khusus berarti berpalingnya perhatian seseorang dari objek-objek eksternal, yang mendapat perhatian utama dalam soal-soal biasa, kepada kegiatan rohani, dan kepada cara berada di mana objek-objek ini berada sebagai sebuah objek kegiatan.

 

Iman:[4]

Inggris: Faith; dari bahasa Latin: fides (iman, kepercayaan, kesetiaan).

Beberapa pengertian dari kata “IMAN” itu sendiri adalah:

1.     Penerimaan terhadap suatu sistem kepercayaan yang diyakini benar. Sikap percaya yang melampaui atau melebihi bukti yang ada.

2.     Kepercayaan akan syahadat dari suatu agama

3.   Keyakinan dan kepercayaan yang kuat akan Allah (biasanya Allah dipercaya telah mewahyukan diriNya sendiri dan dapat dikenal).

4.     Keyakinan akan sesuatu walaupun berlawanan dengan evidensi (fakta-fakta).

5.     Keyakinan akan sesuatu biarpun tidak terdapat evidensi baginya.

6.  Keyakinan terhadap sesuatu disebabkan evidensi masa lalu baginya. Keyakinan yang didasarkan atas kepercayaan.

7.   Kepercayaan akan kebenaran sesuatu yang tidak dapat didukung secara rasional dan empiris tetapi yang diandaikan oleh suatu bentuk pengetahuan empiris. 

Refleksi Keimanan Sampai Pada Titik Dasar seperti menyadarkan diri kembali bahwa hakikat keimanan seseorang selalu harus dipertanyakan, selalu diperbaharui, selalu terus diupgrade tak henti-henti agar bisa menjadi dasar tumpuan, menjadi penggerak dan cerminan sifat dan sikap muslim sesungguhnya. Harapannya dari proses perenungan panjang, refleksi mendalam, dan meditasi yang khusus dapat melahirkan sosok manusia yang tangguh, seorang mukmin yang kokoh pendirian, kuat keimanannya, berasas dalam setiap tindakannya, menjadikannya tegak berdiri di atas keimanan yang diridhoi ilahi.

Dari uraian singkat di atas, kiranya teman-teman pembaca bisa menilai sendiri akan kualitas buku ini, tidak rugi rasanya jika ini menjadi perbendaharaan nutrisi akal, pikiran dan hati.

Untuk selanjutnya mari sama-sama ngaji, mari sama-sama menimba ilmu, mari sama-sama berproses menuju insan kamil menurut Allah swt. Wallahualam Bishoab.



[1] Lorens Bagus, ‘Kamus Filsafat’ (Jakarta: PT. Gramedia, November 1996), h. 928.

[2] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis), Pertama, Seri Kajian Oksidental (Ponorogo, Jawa Timur: Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2008), h. 24.

[3] Bagus, ‘Kamus Filsafat’, h. 944.

[4] Bagus, h. 321.

Tuesday, January 21, 2025

Berguru Seputar Kepemimpinan Perguruan Tinggi

 Medan. Selasa, 7 Januari 2025



Implementasi Agrement; Prodi PBA STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan Berguru dari Wakil Ketua I STAI Darul Arafah (STAIDA) Deli Serdang  seputar Kepemimpinan Perguruan Tinggi.

 

Medan. Selasa, 7 Januari 2025, Wakil Ketua I STAIDA Deli Serdang, Dr. Usman Betawi, M.HI bersama Kaprodi PBA STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan H. Ahmad Fauzi Ilyas, M.S.I dan sektrertaris prodinyaIrwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd, berdiskusi intens seputar kepemimpinan perguruan tinggi. 

 

Dalam perbincangan tersebut proses dialog dua arahpun terjalin, panjang pembicaraan, seputar kepemimpinan, peluang penerimaan mahasiswa baru, sikap kepercayaan kepada keorganisasian BEM Mahasiswa.

 

Selain dari pada itu, saling bertukar pikiran untuk mendapatkan pembelajaran dan pelajaran serta informasi yang mahal juga terjalin satu sama lainnya. Mulai diskusi usai magrib tanpa terasa 3 jam telah berlalu, jika disimpulkan, terdapat banyak hal dan titik poin penting, untuk itu kami catatkan di sini hasil diskusi kami, di antaranya:

 

·  Kemandirian kampus membutuhkan keberanian dan solidaritas dari unsur sivitas akademika, terutama di mulai dari posisi teratas sebagai top leader di kampus, yaitu ketua dan para wakil-wakil ketuanya.

·    Statuta, ortala, visi-misi kampus, menjadikan dasar terbukanya cakrawala berpikir para dosen, termanifestasi dalam aksinya di lapangan.

· Secara pola pikir antara guru dan dosen itu harus berbeda, dosen harus lebih terbuka untuk percepatan, kemajuan, hubungan kolaborasi, relasi, Kerjasama dan tidak henti-hentinya berinovasi, sebab yang dihadapi setiap harinya adalah mahasiswa yang terus tumbuh simultan, energik tanpa henti.

· Kampus adalah pusat pengembangan di bidang ilmu dan akademik, bukan profit oriented, sehingga perlu dipahami bahwa informasi dan relasi adalah aset dan harta karun yang sangat mahal, perlu dijaga dan dicari setiap harinya. Hal ini salah satu hal penting menuju perkembangan dan pengokohan perguruan tinggi.

· Peran ketua sekolah tinggi dan wakil ketua sama-sama bersinergi untuk mengkomunikasikan informasi dari bawah kepada Yayasan. Sehingga komunikasi terjalin dengan baik, dengan begitu perlahan perguruan tinggi berbasis pesantren dapat bertahap menuju kemandirian sistem secara totalitas.

· Mempercayakan pekerjaan para civitas akademika pada bagiannya adalah keharusan, sehingga menciptakan miliu kepercayaan dan tanggungjawab  yang kokoh.

· Masing-masing unsur dari kampus mesti tahu TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi), tidak saling mencampuri urusan satu dengan yang lainnya, atau juga tidakacuh terhadap tugas yang seharusnya dikerjakan dengan baik.

· Analisis “SWOT” untuk penerimaan mahasiswa baru merupakan tanggungjawab wakil ketua akademik dan ketua sekolah tinggi, sehingga paparan perencanaan penerimaannya, merupakan informasi bagi Yayasan, dan pengetahuan bagi prodi-prodi serta seluruh civitas yang hadir dalam rapat. Selanjutnya pola yang dirumuskan ketua dapat disingkronisasi dalam pengerjaan dilapangan baik secara ideologi maupun aksi.

·    Dosen harus benar-benar memiliki rasa dan ruh kedosenan, yaitu dalam arti universal sebagai kaum akademisi yang bersinggungan langsung terhadap teori/konsep dengan lapangan secara bersamaan.

·      Dalam tradisi kepemimpinan, dosen mesti memiliki rasa kepercayaan kepada BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Biarkan pergerakan BEM menjadi cara mereka menumbuhkan rasa kecintaan mahasiswa pada almamaternya. Tidak lagi dicekoki selalu, tidak lagi disuapi selalu, namun biarkan makan, makan sendiri. Biarkan naik sepeda, naik sepeda sendiri. Tidak mesti dipegangi terus menerus, tapi pantaulah dari kejauhan, panggil dan nasehati jika ada yang tidak pas, tapi bukan di depan umum, mesti paham profesionalitas, privasi dan harga diri.

·   Respek adalah harga yang mahal dalam organisasi, sebagai wakil ketua I bidang akademik, prodi adalah bawahan saya yang harus saya dukung, saya percayai, saya backup dan saya bela benar-benar, selalu saya jaga, jika salah saya ingatkan, jika benar saya apresiasi, dengan tetap mempercayakan dan menjaga ini, mereka jauh lebih menghormati saya dan saya juga tetap hormat dengan mereka.

·     Pada intinya kepemimpinan di perguruan tinggi ini adalah kelihaian kita dalam memandang permasalahan itu sebagai bentuk pendewasaan. Kelihaian kita memandang masalah dari sisi solusi. Memandang konsep dari sisi pelaksanaan. Sehingga pada akhirnya kepemimpinan bukan untuk ditakuti, tapi dirindukan. Hingga akhirnya saling menghargai dan cukup menciptakan vibes kerja yang harmoni.

 

Edited By Prodi PBA STIT RH Medan

Tuesday, January 7, 2025

Mengambil Berkah Dari Kedua Tuan Guru



Medan, 7 Januari 2025. 

Malam ini dengan tanpa diterka tanpa diduga, dengan penuh rizki aku diajak Bapak Kaprodi bertemu teman semasa kecilnya, tanpa menolak aku juga mengikutinya.

 

Setelah bertemu di "Sobat-e" yang telah dijanjikan, maka perbincanganpun mengalir seperti layaknya kran yang dibuka, mengucur sejak awal hingga akhir.

 

Pembahasanpun melebar dengan banyak topik dan tema, dari mulai tema masa kecil, pergaulan dibonceng ‘lereng’ (sepeda) sepulang sekolah, tidak pernah berantam sejak kecil, hingga keputusan masuk pesantren, yang satu masuk ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Medan dan yang satu lagi masuk Pesantren Darul Arafah Deli Serdang, sampai kini masing-masing berkiprah di almamaternya sebagai dosen dengan tugas pokok dan fungsinya (TUPOKSI) masing-masing.

 

Tidak cukup sampai di situ, perbincangan juga dilanjutkan dengan opsi solusi dari perselisihan yang terjadi di para jamaah di kampung, bagaimana menyelesaikan tanpa ada yang terluka? Bagaimana menyelesaikan masalah tanpa timbul masalah? Bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yang berilmu dan dewasa? Begitulah kira-kira diskusinya malam itu.

 

Pembahasan melebar dari A hingga Z, sampailah diingatkan tentang kisah perdebatan Harimau dan Keledai tentang warna rumput, Harimau bilang warna rumput itu hijau, dan keledai bersitegang urat bahwa warna rumput itu biru, terjadilah perdebatan yang tak terelakkan,  debat berlangsung panjang tidak ada habis-habisnya, hingga akhirnya keduanya sepakat untuk menghadap sang Raja Singa, sehingga bisa menjadi hakim yang adil untuk melerai perdebatan ini.

 

Singkat cerita, usai Harimau dan Keledai menyampaikan perselisihan pendapat mereka, maka Raja Hutan Singa menyampaikan bahwa: “Untuk perdebatan ini Harimau yang benar, rumput berwarna hijau bukan biru,” (senang lah harimau ketika itu) “tapi karena perdebatan ini, Harimau yang dihukum” (bersorak-sorai si keledai, karena senang Harimau di hukum). Dengan penuh rasa ingin tahu, Harimaupun protes, lalu bertanya pada raja hutan “Apa salah saya? Kenapa saya yang dihukum? Kan saya benar!”, “Salahmu satu, udah tahu keledai kok diajak berdebat, udah tahu tak berilmu mengapa bersitegang urat!” Jawab Raja Singa.

 

Dari kisah yang kembali diingatkan ustadz Usman barusan, teringat tentang fenomena yang marak terjadi saat ini di mana-mana, bukan benar-benar berilmu tapi mendebat sesuatu dengan merasa paling benar satu sama lain, tidak mengetahui akar permasalahan tiba-tiba muncul menjadi sosok paling hebat, superior mendominasi keadaan. Padahal sejatinya manusia ini penuh dengan kekurangan, kesalahan, dan kelalaian. Masih jauh panggang dari api tentang arti kesempurnaan. Pada akhirnya pandai-pandailah mawas diri, menjaga diri, hati, kata dan pikiran, semoga semuanya dalam lindungan Allah Swt,.

 


Mendapat pengetahuan tambahan lagi, bersabar-sabarlah jika perdebatan itu terjadi dan tidak terelakkan lagi. Namun yang perlu dipastikan perdebatan mesti memiliki value yang sama, sebab akan berujung pada satu titik perpisahan dan pertikaian jika tidak sejajar dari sisi value.  Dan tetap, sebaik-baiknya sikap adalah berdamai. Damai itu indah, bertikai itu menyisakan marah dan gusar walaupun setetes.

 

Banyak hal ahwal, ibroh dan hikmah dari kisah yang kembali diingatkan di atas, sejenak hati tenang, kembali menyadari bahwa inilah dinamika dunia, saat ini benar-benar sedang tinggal di dunia, tempat manusia berkeluh kesah, tempat manusia menyombongkan diri, tempat manusia menghinakan diri, tempat manusia beribadah sebanyak-banyaknya, tempat manusia berdoa dan berharap pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tempat akhir manusia bertransportasi menuju akhirat yang kekal, abadi, immortal nantinya.

 

Panjang perbincangan sebenarnya, namun untuk catatan ringan kali ini, cukup kiranya aku hentikan di sini, semoga sedikit tapi memberikan pencerahan dan insight baru bagi teman-teman pembaca, terima kasih sudah mau membaca hingga sejauh ini, semoga teman-teman sehat selalu.

 

Salam santri, Santri berilmu, Santri sholeh, Santri sehat dan Santri kreatif.
Akhir kata, Wassalamu’alaikum wr wb.


Subscribe Us

Dalam Feed


*PENGALAMAN NYANTRI: Menikmati Setiap Detik Proses Kelak Menjadi Pengalaman Beresensi